Coretanku :)
Hari ini rasanya aku datang terlalu pagi ke kampus, karena saat ku buka pintu kelas, tak ada seorangpun disana. Ku lirik jam di hp ku, seperti biasa. Aku selalu datang saat jarum jam tepat mengarah ke angka tujuh, atau biasanya kurang semenit. Aku jadi berpikir, mungkin kelasnya pindah ke kelas lain. Ups, maksudku orang-orangnya. Aku pun berbalik arah dan keluar dari kelas, lalu menutup pintu kelas dan bergegas menuruni tangga sambil menekan-nekan tombol qwerty di hp. Mengirim sms kepada teman yang biasanya selalu ku tanya saat aku butuh informasi.
Saat di bawah, aku melihat teman sekelasku sedang duduk di kursi loby, aku pun bertanya. Berdasarkan informasi yang kudengar dari mulutnya(apa dah-__-), ternyata hari ini kelasku tidak ada kuliah. Aku pun menghempaskan nafas karna lelah, kesal, dan sebagainya. Akhirnya aku pun memutuskan untuk ke Bara (Babakan Raya), karena kalau pulang lagi ke asrama rasanya nggak dapet apa-apa. Padahal kaki ini sudah jauh melangkah (cielah bahasanya_-)
Kebetulan aku belum sarapan, karena kantin diu asramaku tutup. Aku pun menyusuri jalan panjang itu sambil memperhatikan aktivitas-aktivitas orang di jalan. Aku memang suka meneliti orang. Tujuannya sih nggak jauh-jauh, selain karena kebiasaan,hal ini kulakukan juga untuk mencari inspirasi menulis. Agar blog ini tidak seperti gedung yang udah tua, yang banyak sarang lanba-labanya karna nggak pernah diurusin. hehe
Pagi ini Bara masih sepi. Hanya beberapa toko yang sudah buka. Aku mengedarkan pandanganku ke segala arah sambil berjalan. Ibu penjual buah itu sedang mengupas buah nanas. Aku sering membeli pepaya di situ. Ternyata pagi-pagi begini aktivitas ibu itu adalah mengupas buah-buahan. Toko nasi di sampingnya belum buka. Aku juga sering membeli nasi disana, karena porsinya ala mahasiswa banget. Murah dan yaaaa bisa ngeyangin perut. hehe
Aku pun terus berjalan hingga di sebuah tempat. Rencananya aku ingin membeli lontong sayur, sudah lama rasanya tidak memakan makanan yang satu itu. Yah walaupun rasanya tidak seenak bikinan ibu, tapi aku sangat merinduykan masakan ini. Atau mungkin memang perutku yang menginginkannya? Haha. Abaikan.
Aku pun membeli sepiring lontong sayur tanpa telur, karena telurnya sudah habis kata si bapak penjual. Saat makan, tiba-tiba ada seorang anak laki-laki, yang awalnya ku kira anak kuliahan, tapi ternyata masih SMA, datang menghampiri bapak itu sambil menunduk. Aku sempat menghentikan aktivitas makanku dan memperhatikannya. Aku berpikir kenapa orang ini bersikap seperti itu? Kayak anak SD saja yang ingin minta eskrim. Namun, setelah aku melihat istri dari bapak penjual itu menyerahkan uang kepada anak ini, aku baru tahu kalau dia adalah anak dari bapak dan ibu yang telah ku beli lontong sayurnya. Aku tertegun sejenak, hatiku langsung teringat akan ayah dan ibu di rumah. Apa yang sedang mereka lakukan? Apa mereka baik-baik saja?
Ibu dan bapak penjual lontong itu bekerja dari subuh hanya untuk menyekolahkan anaknya dan rela memberikan apa yang anaknya inginkan tanpa meminta balasan apapun. Aku yakin, itulah yang juga orangtuaku lakukan untukku. Setiap hari mereka bekerja agar nakanya ini sukses dan memiliki masa depan yang cerah. Tidak seperti mereka yang hanya bekerja di sawah. Aku bangga sama ayahku, walaupun hanya lulusan SD, dia mampu menyekolahkan anak-anaknya sampai ke perguruan tinggi. Begitu hebat ayahku, dia adalah lulusan SD yang berpikiran luas. Menurutku, pemikirannya tidak kalah dengan orang-orang kuliahan. Mungkin karena dia mudah bergaul. Pada tahun 90an, ayahku sempat menh=jadi kepala desa. Saat itu aku belum lahir, bahkan belum diciptakan. hehe
Jaman dulu, lulusan SD saja sudah bisa menjadi guru. Tapi guru jaman dulu gajinya sangat kecil, maka dari itu orang-orang jaman dulu banyak yang lebih memilih bekerja di sawah daripada pada menjadi seorang guru. Karena penghasilan petani jaman dulu tuh lebih besar daripada penghasilan guru. Berbanding balik dengan sekarang, yang miskin semakin miskin, yang kaya semakin kaya. Gaji guru sekarang sudah sangat besar. Petani sudah hampir punah, karena banyak tanah-tanah mereka yang terpaksa dijual untuk memenuhi kebutuhan hidup yang mendesak. Untungnya sampai saat ini ayahku masih setia menjadi petani, yang membuat kekagumanku kepadanya semakin bertambah. Semakin tua beliau semakin semangat untuk mendukung anak-anaknya. Apalagi saat mendengar aku mendapat beasiswa kuliah ke IPB, beliau sangat mendukung, karena IPB adalah kampus rakyat yang menghasilkan petani-petani berdasi. Bahkan, ayahku akan sangat mengijinkan meskipun aku dapat beasiswa ke luar negeri sekalipun. hehe
Dulu aku sempat khawatir, akan merepotkan orangtuaku saat aku sudah kuliah. Pasti banyak sekali biaya yang harus dikeluarkan, Sementara untuk orang yang bodoh sepertiku ini, peluang untuk mendapat beasiswa sangat kecil. Aku berpikir seperti itu dulu. Tapi ternyata aku salah, orang bodoh tidak selamanya bodoh. Bodoh masih bisa diusahakan dengan belajar dan tekat yang kuat. Ku lihat di sekelilingku, orang-orang yang sama sepertiku memiliki kaki dan tangan sepasang, memiliki satu otak, memiliki hidung, mata, mulut. Kenapa mereka bisa lebih dariku? Aku baru menyadari, ternyata semua orang itu sama. Yang membuat mereka berbeda adalah tergentung mereka sendiri untuk memanfaatkan nikmat yang sudah Allah kasih itu seperti apa. Orang lain bisa, kenpa aku tidak bisa? Aku pun mulai berpikir. Aku harus berubah dari aku yang dulu. Aku harus membuat hidupku lebih bermanfaat dan tidak merepotkan orang disekelilingku. Aku pun berusaha, belajar, hingga aku bisa kuliah di universitas kebanggaain ini dengan modal tekad. Air mata tentu saja menetes dari pelupuk mataku tanpa diperintahkan, dan aku tidak tahu seberapa banyak keringat dan air mata yang sudah mengalir dari tubuh ayah dan ibuku yang rela merawatku dengan sabar walaupun aku menyebalkan. Astaghfirullah... *tisu mana tisu?*
Kenapa jadi sejauh ini ya coretan sati? Padahal awalnya ga sedih kayak gini. hehe
Gara-gara ketemu anak itu tuhh *plak
Hehe, namanya juga coretan sati, ya penuh dengan coretan lah. Saya harap kalian nggak nyesel baca coretan gaje ini. Saya hanya ingin berlatih menjadi penulis, hihi *peace._.v
Semoga bermanfaat :)
Ingat pesan saya tadi, "Bodoh todak selamanya bodoh!"
Tidak ada hal yang tidak mungkin di dum=nia ini. Teruslah bermimpi, karena mimpi adalah kunci dari kesuksesan. Petiklah kesuksesan dari mimpi-mimpi yang sudah kau gantungkan :)
*kok jadi bijak gini ya?-__-
bye~
Saat di bawah, aku melihat teman sekelasku sedang duduk di kursi loby, aku pun bertanya. Berdasarkan informasi yang kudengar dari mulutnya(apa dah-__-), ternyata hari ini kelasku tidak ada kuliah. Aku pun menghempaskan nafas karna lelah, kesal, dan sebagainya. Akhirnya aku pun memutuskan untuk ke Bara (Babakan Raya), karena kalau pulang lagi ke asrama rasanya nggak dapet apa-apa. Padahal kaki ini sudah jauh melangkah (cielah bahasanya_-)
Kebetulan aku belum sarapan, karena kantin diu asramaku tutup. Aku pun menyusuri jalan panjang itu sambil memperhatikan aktivitas-aktivitas orang di jalan. Aku memang suka meneliti orang. Tujuannya sih nggak jauh-jauh, selain karena kebiasaan,hal ini kulakukan juga untuk mencari inspirasi menulis. Agar blog ini tidak seperti gedung yang udah tua, yang banyak sarang lanba-labanya karna nggak pernah diurusin. hehe
Pagi ini Bara masih sepi. Hanya beberapa toko yang sudah buka. Aku mengedarkan pandanganku ke segala arah sambil berjalan. Ibu penjual buah itu sedang mengupas buah nanas. Aku sering membeli pepaya di situ. Ternyata pagi-pagi begini aktivitas ibu itu adalah mengupas buah-buahan. Toko nasi di sampingnya belum buka. Aku juga sering membeli nasi disana, karena porsinya ala mahasiswa banget. Murah dan yaaaa bisa ngeyangin perut. hehe
Aku pun terus berjalan hingga di sebuah tempat. Rencananya aku ingin membeli lontong sayur, sudah lama rasanya tidak memakan makanan yang satu itu. Yah walaupun rasanya tidak seenak bikinan ibu, tapi aku sangat merinduykan masakan ini. Atau mungkin memang perutku yang menginginkannya? Haha. Abaikan.
Aku pun membeli sepiring lontong sayur tanpa telur, karena telurnya sudah habis kata si bapak penjual. Saat makan, tiba-tiba ada seorang anak laki-laki, yang awalnya ku kira anak kuliahan, tapi ternyata masih SMA, datang menghampiri bapak itu sambil menunduk. Aku sempat menghentikan aktivitas makanku dan memperhatikannya. Aku berpikir kenapa orang ini bersikap seperti itu? Kayak anak SD saja yang ingin minta eskrim. Namun, setelah aku melihat istri dari bapak penjual itu menyerahkan uang kepada anak ini, aku baru tahu kalau dia adalah anak dari bapak dan ibu yang telah ku beli lontong sayurnya. Aku tertegun sejenak, hatiku langsung teringat akan ayah dan ibu di rumah. Apa yang sedang mereka lakukan? Apa mereka baik-baik saja?
Ibu dan bapak penjual lontong itu bekerja dari subuh hanya untuk menyekolahkan anaknya dan rela memberikan apa yang anaknya inginkan tanpa meminta balasan apapun. Aku yakin, itulah yang juga orangtuaku lakukan untukku. Setiap hari mereka bekerja agar nakanya ini sukses dan memiliki masa depan yang cerah. Tidak seperti mereka yang hanya bekerja di sawah. Aku bangga sama ayahku, walaupun hanya lulusan SD, dia mampu menyekolahkan anak-anaknya sampai ke perguruan tinggi. Begitu hebat ayahku, dia adalah lulusan SD yang berpikiran luas. Menurutku, pemikirannya tidak kalah dengan orang-orang kuliahan. Mungkin karena dia mudah bergaul. Pada tahun 90an, ayahku sempat menh=jadi kepala desa. Saat itu aku belum lahir, bahkan belum diciptakan. hehe
Jaman dulu, lulusan SD saja sudah bisa menjadi guru. Tapi guru jaman dulu gajinya sangat kecil, maka dari itu orang-orang jaman dulu banyak yang lebih memilih bekerja di sawah daripada pada menjadi seorang guru. Karena penghasilan petani jaman dulu tuh lebih besar daripada penghasilan guru. Berbanding balik dengan sekarang, yang miskin semakin miskin, yang kaya semakin kaya. Gaji guru sekarang sudah sangat besar. Petani sudah hampir punah, karena banyak tanah-tanah mereka yang terpaksa dijual untuk memenuhi kebutuhan hidup yang mendesak. Untungnya sampai saat ini ayahku masih setia menjadi petani, yang membuat kekagumanku kepadanya semakin bertambah. Semakin tua beliau semakin semangat untuk mendukung anak-anaknya. Apalagi saat mendengar aku mendapat beasiswa kuliah ke IPB, beliau sangat mendukung, karena IPB adalah kampus rakyat yang menghasilkan petani-petani berdasi. Bahkan, ayahku akan sangat mengijinkan meskipun aku dapat beasiswa ke luar negeri sekalipun. hehe
Dulu aku sempat khawatir, akan merepotkan orangtuaku saat aku sudah kuliah. Pasti banyak sekali biaya yang harus dikeluarkan, Sementara untuk orang yang bodoh sepertiku ini, peluang untuk mendapat beasiswa sangat kecil. Aku berpikir seperti itu dulu. Tapi ternyata aku salah, orang bodoh tidak selamanya bodoh. Bodoh masih bisa diusahakan dengan belajar dan tekat yang kuat. Ku lihat di sekelilingku, orang-orang yang sama sepertiku memiliki kaki dan tangan sepasang, memiliki satu otak, memiliki hidung, mata, mulut. Kenapa mereka bisa lebih dariku? Aku baru menyadari, ternyata semua orang itu sama. Yang membuat mereka berbeda adalah tergentung mereka sendiri untuk memanfaatkan nikmat yang sudah Allah kasih itu seperti apa. Orang lain bisa, kenpa aku tidak bisa? Aku pun mulai berpikir. Aku harus berubah dari aku yang dulu. Aku harus membuat hidupku lebih bermanfaat dan tidak merepotkan orang disekelilingku. Aku pun berusaha, belajar, hingga aku bisa kuliah di universitas kebanggaain ini dengan modal tekad. Air mata tentu saja menetes dari pelupuk mataku tanpa diperintahkan, dan aku tidak tahu seberapa banyak keringat dan air mata yang sudah mengalir dari tubuh ayah dan ibuku yang rela merawatku dengan sabar walaupun aku menyebalkan. Astaghfirullah... *tisu mana tisu?*
Kenapa jadi sejauh ini ya coretan sati? Padahal awalnya ga sedih kayak gini. hehe
Gara-gara ketemu anak itu tuhh *plak
Hehe, namanya juga coretan sati, ya penuh dengan coretan lah. Saya harap kalian nggak nyesel baca coretan gaje ini. Saya hanya ingin berlatih menjadi penulis, hihi *peace._.v
Semoga bermanfaat :)
Ingat pesan saya tadi, "Bodoh todak selamanya bodoh!"
Tidak ada hal yang tidak mungkin di dum=nia ini. Teruslah bermimpi, karena mimpi adalah kunci dari kesuksesan. Petiklah kesuksesan dari mimpi-mimpi yang sudah kau gantungkan :)
*kok jadi bijak gini ya?-__-
bye~

Komentar
Posting Komentar