Apresiasi untuk sesorang yang kupanggil "Ayah"
Tulisan ini aku persembahkan
untuk malaikat tanpa sayap. Ayah.
Selamat ulang tahun, Ayah. Ada
perasaan sedih bercampur bahagia saat menyaksikan Ayah sudah bertambah usia,
dengan begitu berkurang juga sisa umur ayah untuk berada di dunia ini.
Ayah adalah lelaki di dunia ini
yang pasti tidak akan menyakitiku. Ayah telah mengajariku bagaimana caranya
menjadi anak yang berbakti, ayah yang selalu membelaiku saat aku menangis
disaat aku tidak mampu, ayah yang selalu mengajariku agar tidak mudah menyerah.
Waktu kecil, aku adalah anak
nakal yang selalu ingin dipenuhi permintaannya, ingin ini ingin itu tidak
peduli ayah sedang apa. Perintahku harus dilaksanakan. Ayah membuatku
seolah-olah menjadi seorang putri saat Ayah menggendongku, melayangkanku di
udara dan menjadi kuda untuk kutunggangi. Bahkan ayah pernah menjadi ‘kapal’
saat aku ingin merasakan bagaimana rasanya berlayar. Terimakasih, Ayah.
Namun ayah juga pernah
mengacuhkanku, membuatku merasa seperti anak tiri, anak hilang, anak yang tidak
diharapkan, hingga membuatku merasa bahwa ayah tidak menyayangiku. Saat itu aku
belum mengerti arti kasih sayang yang sesungguhnya. Bahwa kasih sayang itu
tidak harus ditunjukkan dengan mengikuti segala keinginan kita, sesekali kita
harus diajari untuk merasakan hidup yang sebenarnya agar saat besar nanti kita
bisa menyikapi masalah dengan dewasa. Sekarang aku sudah besar, Ayah. Aku sudah
mengerti arti ketidakpedulian Ayah saat itu, saat aku merengek meminta hal yang
tidak mungkin bisa engkau penuhi, atau meminta hal yang kupikir menyenangkan
namun engkau tahu itu sangat berbahaya bagiku. Itu adalah cara ayah mengajariku
hakikat hidup yang sebenarnya, bahwa hidup tidak hanya soal kesenangan, akan
banyak kesedihan dan harapan yang tidak tercapai yang akan kita alami, yang pada
akhirnya membuat kita kuat dan mengerti artinya berjuang.
Terimakasih lagi, Ayah. Maaf,
maaf jika anakmu ini kurang berbakti. Maaf jika anakmu ini sering
menyusahkanmu, sering membuatmu khawatir. Aku tahu ayah sering ingin marah,
tapi ayah adalah orang yang paling sabar menghadapiku. Ayah paling tahu cara
menghadapiku. Ayah hebat. Ayah bisa menahan amarah saat aku melakukan
kesalahan. Ayah memarahiku dengan cara yang berbeda. Ayah mendiamkanku.
Ketahuilah, Ayah, bahwa kediaman ayah itu lebih membuatku sadar dibanding
amarah ayah.
Pernah aku mendengar suatu
cerita, bahwa jika seorang anak tidur di bagian rumah manapun, pas bangun ia
pasti sudah berada di tempat tidur. Katanya yang memindahkan pasti Ayah.
Aku mengalaminya. Ayah membuatku
mengalami hal seperti itu, yah. Sering aku pura-pura belum terbangun saat ayah
menggendongku, memindahkanku ke tempat tidur. Bahkan saking nyamannya diperlakukan
seperti itu, aku sering sengaja tidur di lantai, di ruang tamu, di kursi, di
depan TV, agar digendong oleh Ayah. Padalah tanpa modus seperti itu, Ayah sudah
sering menggendongku saat jalan-jalan ke pasar.
Sekarang Ayah sudah menua, ramput
putih ayah semakin bertambah, kulit ayah semakin mengeriput, tubuh ayah semakin
kurus, dan langkah ayah semakin gemetar. Aku juga sudah berubah menjadi seorang
putri yang beranjak dewasa, namun bagi ayah aku tetap putri kecilnya, yang
harus ia jaga karena selalu menangis saat tidak mampu menghadapi masalah orang
dewasa. Bagi ayah aku tetaplah putri kecilnya yang harus selalu dilindungi.
Ketahuilah, Ayah. Ayah juga akan tetap menjadi pahlawanku, pahlawan kami,
pangeran ibu. Ayah adalah malaikat tanpa sayap. Selamat ulang tahun, Ayah
terhebatku. Semoga, aku dan kakak-kakak bisa menjadi anak yang sholeh dan
sholehah agar bisa mempersembahkan hadiah terbaik untuk Ayah. Surga. Karena
itulah hadiah yang paling pantas untuk didapatkan oleh seorang ayah yang hebat.
I love you, daddy.
Komentar
Posting Komentar