Belajar Bersyukur dari Hiruk Pikuk Kota Bogor
Lagi, perasaan ini yang muncul
setiap kali aku keluar dan berinteraksi dengan masyarakat. Memang ini yang
seharusnya aku lakukan setiap kali aku merasa menderita. Agar aku merasakan
bahwa masih ada yang lebih menderita daripada aku.
Minggu, adalah hari dimana aku
bisa merefresh otakku dengan jalan-jalan ke kota Bogor bersama teman-teman.
Naik angkot pastinya. Selain Kota Hujan, Bogor juga dikenal sebagai Kota Seribu
Angkot. Nggak heran kalo macetnya pake banget, apalagi kalo week end.
Sebenarnya ini bukan untuk pertama kalinya aku ke stasiun Bogor. Tapi setiap
kali melihat daerah stasiun yang penuh dengan hiruk pikuk manusia yang mengais
rejeki, perasaan iba selalu muncul dalam benakku. Di sisi lain aku bersyukur
karena Allah telah memberi rejeki lebih kepadaku sehingga aku tidak perlu
menjadi badut atau berdandan seperti pocong agar orang-orang tertarik untuk
mengambil foto bersamaku dan memberiku sedikit uang. Seperti yang terlihat di
mataku sekarang, seorang badut dan seorang pocong sedang duduk dipinggir jalan
dengan ember di masing-masing tangan mereka. Ember itu digunakan untuk
menampung uang dari orang yang tertarik untuk berfoto bersama mereka. Namun
sudah cukup lama kuperhatikan, setiap orang yang berjalan hanya melewati mereka
tanpa tertarik sekalipun, bahkan ada yang berjalan sambil memegang tasnya
erat-erat dan didekap ke depan karena takut di copet. Wajar jika orang bersikap
berhati-hati seperti itu, karena di daerah keramaian seperti stasiun ini memang
rawan kecurian. Sudah banyak pengalaman kecurian di stasiun yang ku dengar dari
teman-temanku, bahkan temanku sendiri juga pernah mengalaminya.
Dengan tatapan nanar melihat
badut dan pocong itu, tiba-tiba aku terkaget karena angkot yang kunaiki ngerem
mendadak karena hampir menabrak angkot di depannya. Aku dan beberapa orang di
dalam angkot refleks mengucap istighfar. Kesal rasanya dengan supir angkot ini
yang tidak berhati-hati mengemudikan angkotnya. Saat rasa kesal menguasai
benakku, tiba-tiba hatiku berubah iba saat tidak sengaja memandang supir angkot
tersebut bercucuran keringat, wajahnya sudah mengeriput dan rambut putihnya
sudah mulai banyak. Ia mengomel-omeli supir angkot di depannya karena hampir
membuat angkot mereka terbentur. Supir angkot itu berteriak dan kembali mengemudikan
angkotnya dengan kencang saat jalanan sudah mulai lengang karena sudah menjauhi
keramaian stasiun.
Miris sekali nampaknya hidup di
kota yang padat ini. Namun dari sini aku belajar bahwa susah sekali mencari
sesuap nasi untuk menyambung hidup. Boro-boro untuk biaya sekolah, untuk makan
esok hari saja mereka seperti tidak yakin mendapatkannya atau tidak. Di
sepanjang jalan, banyak sekali ku lihat anak-anak kecil berkeliaran sambil
membawa gitar atau bahkan bernyanyi tanpa alat music sekalipun. Tau-tau sudah
menyodorkan tangan ke orang-orang yang mereka harapkan mengasihani mereka.
Aku paling tidak tahan melihat
kondisi seperti ini. Bayangkan saja, di umur mereka yang terbilang masih di bawah
10 tahun ini mereka sudah harus berjuang melawan kerasnya hidup. Seharusnya
mereka belajar bersama teman-teman mereka di sekolah, namun untuk tempat
tinggal saja mereka tidak mendapatkan yang layak. Pernah juga kulihat anak
kecil berumur sekitar 6 tahun sudah turun ke jalan saat jam 3 subuh, ia
menyeberangi jalan sambil membawa kuda-kudaan yang ia jadikan untuk mencari
nafkah. Ya Allah kasihan sekali mereka.
Sekarang siapa yang salah? Apakah
salah pemerintah? Atau salah kita semua? Jawabannya adalah salah kita semua.
Pemerintah, pengusaha, saya sebagai mahasiswa, dan yang terpenting diri mereka
sendiri.
Banyak, kok, orang miskin yang
akhirnya bisa sukses karena kegigihan mereka. Banyak, kok, pengamen yang bisa
jadi penyanyi terkenal. Pemerintah mungkin sudah melakukan yang terbaik untuk
mengetas kemiskinan di negeri ini, contohnya dengan pemberian beasiswa sekolah
kepada anak-anak kurang mampu, begitu juga dengan perusahaan. Mungkin karena terlalu
banyaknya penduduk juga yang menyebabkan hal seperti ini. Atau bahkan dari
kurangnya kesadaran untuk beribadah dan bersyukur?
Saya sebagai manusia biasa yang
menjadi pengamat lingkungan sekitar hanya bisa mengambil pelajaran dari kisah
ini. Dari kisah tukang angkot, dari kisah pocong-pocongan, dari kisat badut,
dari kisah pengamen, dari kisah pemulung. Bahwa hidup itu memang tentang
perjuangan. Perjuangan menghadapi nasib yang kadang tak sesuai keinginan. Allah
tidak akan merubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu yang mengubahnya sendiri.
Yang harus kita lakukan sebagai manusia adalah ikhtiar dan selanjutnya serahkan
semua hasilnya kepada Allah. Tujuan utama kita adalah akhirat, surga. Kalaupun
kita hanya seorang pengamen, pemulung, penjual asongan, jika tujuan hidup kita
adalah meraih ridho Allah, pasti akan berkah dan bahagia dunia akhirat. Intinya
kita harus banyak bersyukur. Karena dengan banyak bersyukur, kebahagiaan akan
terus bertambah.
#selfreminder

Komentar
Posting Komentar