Napak Tilas Kehidupanku
Aku, Manusia Biasa yang
ingin menjadi manusia bermanfaat.
Dibesarkan dari keluarga
yang sederhana, harus membuatku bekerja keras untuk meraih impianku.
Ibu dan Ayahku, bukan
seseorang yang kaya raya, ayahku bukan pejabat, ibuku bukan social worker,
mereka hanya lulusan SD. Mereka mendidik anaknya dengan cara sederhana, tidak
pernah menuntut kami untuk menjadi ini-itu, tidak pernah memasukkan kami ke tempat
les, kursus, atau pelatihan-pelatihan skill lainnya, seperti latihan silat,
karate, menari, kursus Bahasa inggris, seperti yang banyak orang tua lakukan
pada anaknya. Terkadang, ada rasa iri dalam benakku terhadap teman-temanku yang
sudah punya tujuan dari kecil, sudah punya skill dari kecil. Tapi apalah daya,
kami hanyalah orang desa, orangtuaku hanyalah petani, ibuku penjahit dan ayahku
seorang pekerja ‘keras’. Iya, dia sangat pekerja keras. Ayahku benar-benar pekerja keras, di sawah, di hutan, bahkan
di gunung. Segala macam pekerjaan pernah ayahku lakukan, dari menambang emas,
membuat rumah, memancing, menanam sayur mayur, menebang pohon, hingga menjadi Kepala
Desa dan Ketua BPD (Badan Permusyawaratan Desa) di desaku tercinta pernah ia
lakukan.
Ayahku memang tidak
memfasilitasi kami (anak-anaknya) untuk ikut berbagai pelatihan, tapi dia
sangat ingin anaknya menjadi seseorang yang sukses, menjadi orang kaya, menjadi
orang yang lebih baik dari dia. Semampunya ia mendidik kami dengan baik,
meskipun kami harus perlu lagi belajar ilmu agama dari orang lain. Meskipun kami
harus terus mencari-cari sendiri ilmu dari orang lain, dari sekolah, dari
tempat mengaji. Ya, satu-satunya ‘pelatihan’ yang sangat orangtuaku (terutama
ibuku) tekankan waktu aku masih kecil, adalah belajar mengaji. Itu saja. Tak
ada pelatihan yang lain, yang membuatku bisa menemukan jati diriku, yang baru
kusadari sekarang bahwa aku sebenarnya sangat membutuhkan itu. Tapi, mungkin
ini yang membedakan jalanku dengan orang lain.
Aku tak diperkenalkan
lagu-lagu Bahasa inggris, tak diperkenalkan film-film Hollywood yang bisa jadi
alternatif belajar Bahasa inggris, tak diperkenalkan hal-hal yang kubutuhkan
untuk menjadi orang yang pintar, cerdas. Tapi, aku diperkenalkan untuk selalu
berbakti pada orangtua, aku diperkenalkan untuk membantu ibu membereskan rumah,
aku diperkenalkan untuk menonton film-film melayu, aku diperkenalkan untuk
mengikuti ibuku mengaji, bahkan aku diperkenalkan untuk membantu ibuku di
sawah.
Waktu kecil. Sebelum masuk
sekolah, aku selalu ditinggal pergi oleh ibuku setiap pagi. Aku tinggal dirumah
nenekku. Ibuku pergi kemana? Ia pergi ke sawah. Mengayuh perahu sendirian jika
ayah pergi ke sawah yang lain, karena ibu pergi ke sawah yang ada di kampung
seberang, harus menyeberangi sungai. Saat aku beranjak kanak-kanak, usiaku
sudah 6 tahun dan aku sudah masuk sekolah, terkadang aku mengikuti ibuku ke
sawah, setiap hari minggu, bersama kakakku Nopi, yang pada saat itu masih SD.
Kami diajarkan cara mengayuh perahu, kami menemani ibu di sawah, meskipun waktu
itu aku lebih sering merepotkan daripada membantu.
Saat itu, pergi ke
sawah setiap hari minggu adalah hal yang paling menyenangkan yang pernah
kurasakan di dunia ini. Aku bertemu sungai-sungai, bertemu air, bertemu bukit,
bertemu burung-burung, bertemu kodok, bertemu batang padi, bertemu benih padi,
bertemu cacing, bertemu dangau (rumah kecil untuk berteduh yang biasanya berada
di tengah sawah), dan yang paling menyenangkan adalah perbekalan yang harus
kubawa ke sawah. Setiap subuh, sebelum ke sawah, ibuku membuat pisang goreng,
atau membeli kue di pasar untuk bekal ke sawah. Terutama bekalku sebagai
anaknya yang masih kecil pada saat itu, yang pasti sesekali akan merasa kelaparan
dan kehausan saat matahari sudah terik. Merepotkan sekali. Tapi lucu, jika
diingat.
Sebagai seorang anak,
tentu aku pernah menjadi anak yang nakal, pernah sesekali melawan orangtua,
namun setelah hal itu kulakukan, aku menangis, seakan menyesal. Ya, anak
sekecil itu punya perasaan bahwa melawan orangtua memang hal yang tidak
dibolehkan.
Aku sering minta duit untuk
jajan, yang tidak setiap kuminta pasti dikasih. Seringkali aku sampai menangis
pun tidak dikasih. Bukan kejam. Orangtuaku mengajarkanku untuk mengerti bahwa
makanan di rumah sudah ada, bahwa aku tidak sama dengan anak lain yang
orangtuanya lebih berada, bahwa jajanan di luar sana belum tentu aman. Aku
harus mengerti itu, aku harus mengerti
keadaan.
Apapun yang orangtuaku
ajarkan sejak kecil, bukan hanya untuk saat itu saja, namun sangat sangat
terasa berguna saat aku sudah beranjak dewasa, saat aku harus merantau jauh ke
pulau Jawa untuk melanjutkan pendidikan yang tinggi.
Banyak
ketidakmengertian yang harus dimengerti di kehidupan ini. Kehidupan yang tidak
selalu sejalan dengan keinginan kita. Kehidupan yang harus selalu disyukuri
bagaimanapun adanya. Kehidupan yang penuh tantangan yang membuat kita
benar-benar merasa hidup.

Komentar
Posting Komentar