Alasan kenapa IPB sering diplesetin jadi "Institut Pesantren Bogor"
Assalamu'alaikum!
Di subuh yang teduh ini, diri ini mencoba menggali lagi kemampuan dan hobi menulisnya yang muncul sesukanya alias moody. Sampai sekarang masih belum bisa konsisten nulis guys, padahal udah dicita-citakan (?) ingin bisa nulis setiap hari meskipun sedikit.
Oke, kali ini aku ingin bercerita tentang kampus hijauku di Bogor. Kampus dimana aku resmi daftar pada 18 Agustus 2013 dan lulus pada 9 Januari 2018 (itung aja berapa lama tuh).
Singkatan IPB (Institut Pertanian Bogor aslinya) sering "diplesetin" menjadi beberapa kepanjangan yang dianggap sesuai dengan karakter IPB itu sendiri, antara lain Institut Perbankan Bogor, dimana julukan ini muncul karena banyaknya alumni IPB yang ditemukan bekerja di bank padahal bukan lulusan Fakultas Ekonomi. Hal ini sempat jadi kontroversi yang menjadi perhatian publik saat Presiden Jokowi menghadiri orasi ilmiah terbuka di IPB, lalu muncullah klarifikasi dari Rektor IPB saat itu, Pak Herry yang bahkan sampai diundang oleh salah satu stasiun TV untuk menyampaikan klarifikasinya. Dimana disebutkan bahwa lulusan IPB memang banyak kerja di bank yang berarti tidak sesuai dengan bidangnya, namun sebenarnya lebih banyak lagi kok yang bekerja sesuai dengan bidangnya (https://www.youtube.com/watch?v=cwkWVVA921w). Hal tersebut berarti menunjukkan lulusan IPB sangat fleksibel untuk bekerja dimana saja karena selain mempelajari bidang masing-masing, setahun pertama kuliah mahasiswa IPB juga diajarkan bidang-bidang lain secara umum, termasuk ilmu ekonomi. Itulah mengapa selain Institut Perbankan Bogor, IPB juga sering diplesetin jadi Institut Pleksibel Banget (agak maksa ya f nya diganti p).
Tapi guys, yang ingin aku ceritakan lebih mendalam disini adalah julukan Institut Pesantren Bogor.
Kenapa IPB bisa diplesetin jadi Institut Pesantren Bogor?
Ceritanya dimulai dari pertama kali aku masuk ke kampus hijau ini.
Selama berada di lingkungan IPB, aku merasakan banyak sekali energi positif yang bisa diserap.
Mahasiswa baru IPB wajib tinggal di asrama selama dua semester atau satu tahun, disinilah banyak terjadi titik balik kehidupan yang membawa mahasiswa-mahasiswi tersebut hijrah ke arah yang lebih baik. Menurutku jika tidak ada fasilistas asrama ini, mungkin IPB gak 'sepesantren' itu.
Di asrama, kita akan sekamar dengan orang-orang yang belum pernah kita kenal sebelumnya, karena sudah ditentukan oleh pihak asrama IPB, Dulu pas aku masuk, asrama IPB terdiri dari 9 asrama, yang terbagi menjadi 5 asrama putri (dengan nama A1-A5) dan 4 asrama putra (C1-C4), tapi berhubung sekarang penerimaan mahasiswa baru semakin bertambah, maka pembangunan asrama baru pun dilakukan. Sekarang per tahun 2019, setahuku sudah ada 6 asrama putri dan 4 asrama putra *CMIIW.
Setiap asrama dibagi menjadi beberapa lorong, dimana jika diibaratkan sebuah desa, asrama A1 dan C4 adalah desa A1 dan desa C4. Di dalam desa A1 tersebut terbagi menjadi beberapa RT yang di asrama IPB disebut lorong. Di setiap asrama/desa ini juga ada Lurahnya loh guys, begitu juga untuk setiap lorong juga ada RT nya.
Setiap asrama ada beberapa Senior Resident (SR) yang akan membimbing kita baik dalam hal akademik maupun keagamaan. SR ini adalah senior-senior yang dipilih melalui tes wawancara dan setauku juga harus memiliki prestasi atau nilai akademik di atas rata-rata, selain itu mereka juga dipastikan memiliki keseharian dan bekal ilmu agama yang baik. Mantep banget dah! SR bisa dibilang calon istri/suami idaman *hmm__
Di asrama ini, kita mempunyai segudang agenda yang wajib diikuti. Seminggu sekali ada yang namanya NGADUNG, NGALONG,dan APEL PAGI! Apaan tuh? Sejenis makanan apa ya?
Baik, mari dengarkan ceritanya.
Ngadung adalah akronim dari Ngaji Gedung dan Ngalong adalah akronim dari Ngaji Lorong. Kalo apel pasti udah tau kan yaa
Akan ku jelaskan satu-satu ya mengenai agenda-agenda di atas.
Ngaji gendung adalah agenda bulanan dari asrama, *maaf bukan agenda mingguan*
Dimana semua penghuni asrama (masing-masing asrama mengadakan di setiap gedungnya) akan berkumpul di lobby asrama dan tentunya harus menutup aurat atau lebih baik lagi menggunakan mukena dan jangan lupa membawa Al-qur'an. Di agenda ini kita akan ngaji bareng dan biasanya ada guess star yang datang untuk memberikan materi/motivasi/tausiyah. Bintang tamunya ini kadang perempuan, kadang laki-laki yah guys. Makanya kudu wajib banget ngadung harus menutup aurat.
Materi yang disampaikan kadang tentang keagamaan, bahkan gak jarang juga tentang hal-hal umum seperti sosial, kesehatan, dan kalo musim pemilihan presma, ada calon-calon presma dan wapresma yang dateng buat kampanye.
Ngalong sendiri, adalah akronim dari Ngaji Lorong yang diadakan semingu sekali di lorong masing-masing. Pembinanya adalah SR tiap lorong (jadi di setiap lorong ada satu SR yang bertanggung jawab). Ngalong tuh bisa seru banget. Selain ngaji, di agenda ngalong ini kita juga diajak main sehingga keakraban antar penduduk (?) lorong semakin intens. Kadang ada sesi curhat-curhatan, sesi makan-makan, dll. Intinya ngalong ini menurutku merupakan alternatif untuk meningkatkan keakraban antar sesama di lorong. Kalo ngadung untuk meningkatkan rasa kebersamaan sesama penduduk asrama. Begitu guys. Oh iya, ngalong kadang dilakukan di koridor lorong masing-masing, kadang juga di loby. Tapi khusus untuk lorongku, gak jarang kita ngadain ngalong di kamarku yaitu kamar 227. Karna kamarnya gueedee banget, bayangin aja selorong ada sekitar 40 orang, dan kalo ngumpul semuanya itu kamarku masih ada celah untuk bergerak alias gak kesempitan. Selain itu karna Bu RT nya juga ada di kamarku hehe, maksudnya aku sekamar sama Bu RT dan empat orang lainnya, jadi kami sekamar ber-enam.
Aku pernah menceritakan khusus tentang kami ber-enam di postinganku yang berjudul "Coretan tentang kalian" dan "Nikmatnya Tinggal di Asrama." Kalo penasaran baca aja ya guys hehe *emang ada yang penasaran? Ini juga gak ada yang baca kali wkwk*
Lalu, apel! Bukan buah apel ya, hehe. Fokus fokus!
Apel adalah agenda mingguan yang wajib diikuti oleh seluruh penduduk asrama di asramanya masin-masing. Eit, tapi beda dengan asrama A1-A4.
Mereka apelnya nyatu di suatu halaman, karena tadi udah kuceritakan kalau asrama A1-A4 itu berada dalam satu pagar, hanya beda gedung saja. Begitu juga dengan asrama cowok yang C1-C3, mereka juga nyatu kalo apel. Beda nih dengan asrama A5 dan C4 yang berada jauh dari pandangan A1-A4 maupun C1-C3. Jadi kita apelnya lebih sepi dibanding mereka.
Apel diadakan jam 06.00 setiap hari Kamis kalo gak salah. Jadi, kalo ada yang Kamisnya kuliah pagi jam 07.00, maka diizinkan untuk tidak mengikuti apel, asal sebelum berangkat kuliah ngadep dulu ke SR dan jangan lupa tanda tangan di lembar absensi. Oh iya, setiap ngadung, ngalong maupun apel ini selalu diabsen loh, gunanya untuk melihat tingkat kehadiran kita yang bisa dijadikan patokan untuk nilai akhir asrama. Jangan salah, ada nilainya juga loh tinggal di asrama.
Di agenda apel ini, hal yang dilakukan adalah baris-berbaris, meskipun agak lucu karna banyak yang belum mandi, bahkan mukanya masih pada muka ngantuk. Hihi
Menyanyikan lagu Mars Asrama, dan mendengarkan ultimatum-ultimatum (?) dari inspektur apel, yaitu SR. hehe
Kalo ada yang telat ikut apel, pasti dihukum. Hukumannya adalah ngepel teras asrama, bersihin WC, ngepel koridor dll haha
Sebelum apel, biasanya kita disweeping sama SR, lurah dan juga RT. Disuruh segera keluar dari kamar dan turun ke bawah agar mengikuti apel. Yang masih tidur sehabis sholat subuh *padahal ini tidak baik* langsung bergegas bangun tuh, kalo gak ya siap aja nanti kalo dihukum ngepel atau ngebersihin WC asrama.
Aku yang sering banget habis subuh ngantuk lagi, sering bergegas bangun dari tempat tidur lalu cuci muka dan turun ke bawah. Muka masih ngantuk banget kadang walaupun udah cuci muka, karna malemnya begadang ngerjain laporan gaes. Wkwk
Tinggal di asrama IPB tuh sesuatu yang berkesan banget pasti di setiap benak mahasiswa/i IPB, sehingga ketika harus meninggalkan asrama, karena gak terasa udah mau setahun aja, dan mahasiswa baru akan menggantikan posisi kita, rasanya beraaat banget. Rasanya pengen tinggal di asrama untuk beberapa waktu lagi. hehe
Selain ada ngadung, ngalong dan apel di asrama. Ada juga UKM-UKM asrama yang boleh diikuti sesuai minat masing-masing, boleh juga ikut lebih dari satu. Tapi ada satu UKM yang bikin asrama IPB tambah pesantren banget, yaitu DEMUSH (Dewan Musholla), inilah orang-orang yang mengingatkan kita untuk sholat, yang sering meramaikan musholla asrama dan yang biasanya bertanggung jawab di bawah binaan SR untuk mengadakan Ngaji Gedung. Kadang seminggu sebelum ngaji gedung, anak-anak demush bikin mading tentang materi ngadung yang akan segera dilaksanakan. Pernah juga demush ini mengadakan lomba di asrama. Ada lomba baca qur'an, lomba bikin poster dll.
Selain itu, demush juga membina para insan asrama yang ingin memperbaiki cara membaca Al-Qur'an. Sangat membantu.
Menjelang sholat, biasanya anggota demush dan para petinggi asrama seperti lurah, RT dan SR sweeping di setiap lorong sambil teriak, "A5 sylva, mari sholat subuh berjamah di musholla."
MasyaAllah, bersyukur dianugerahkan saudari-saudari sebaik itu di asrama. :"""))
Selain asrama, yang bikin IPB jadi Insitut Pesantren Banget, atau lebih tepatnya bikin kita yang berada di IPB terbawa ka arah yang lebih baik, ada suatu kegiatan yang dilakukan di Masjid Al-Hurriyyah IPB. Btw masjidnya super duper nyaman banget untuk beribadah dan menyandarkan badan untuk beristirahat sejenak melepas lelah beban kuliah. Adem banget. Banyak kajian yang diadakan, tergantung kita lagi mau mengikutinya apa tidak. Dan ada satu kegiatan yang aku sangat rekomendasikan untuk diikuti mahasiswa IPB, yaitu Tahsin. Kegiatan Tahsin ini bertujuan untuk memperbaiki cara mengaji kita, yaitu cara melafalkan huruf-huruf hijaiyah dengan benar agar tidak salah baca dan tidak salah arti. Guru-gurunya adalah mahasiswa/i IPB sendiri yang udah punya kemampuan dalam membaca Al-qur'an. Di tahsin ini ada tingkatan-tingkatannya loh. Jadi, sebelum menjadi anggota tahsin, kita dites dulu bacaan qur'annya. Dari tes ini kemudian ditentukanlah kita masuk ke tingkat berapa sesuai dengan tingkat kefasihan kita membaca Al-Qur'an. Jika masih sangat terbata-bata, maka kita akan masuk ke tingkat Pra tahsin. Jika sudah lancar namun tajwidnya belum baik, maka kita masuk ke tingkat Tahsin 1. Jika sudah lancar dan ada beberapa lagi huruf yang masih salah penyebutannya, maka kita masuk ke tingkat Tahsin 2. Jika sudah sangat lancar dan tajwidnya juga sudah benar, maka kita masuk ke tahap menghafal qur'an yang disebut tingkat Tahfidz.
MasyaAllah banget ya.
Jadi, beberapa hal itulah yang membuat IPB terasa seperti pesantren. IPB insyaAllah bisa menularkan energi positif kepada mahasiswanya selama mahasiswa itu mau menyerapnya.
Jadi, IPB itu bukan kampus radikal seperti yang orang katakan. Aku yang pernah menjadi bagiannya, merasa sangat bersyukur telah Allah kirimkan ke kampus ini. Mungkin lain kali akan kuceritakan bagaimana IPB mengubahku menjadi pribadi yang lebih baik. Atas izin Allah, pastinya.
SO, sekarang udah tau kan kenapa ipebe sering diplesetin Insitut Pesantren Banget?
Harapanku, semoga ipb tetap seperti julukannya itu, bahkan lebih baik. Semakin banyak menebarkan energi positif kepada mahasiswa(i) di dalamnya. Semakin banyak yang peduli, semakin banyak yang menuju baik. Aamiin.
Sekian dulu, ya. Semoga bermanfaat!
Wassalamu'alaikum.
Pontianak, Agustus 2019.
-satiw-
Di subuh yang teduh ini, diri ini mencoba menggali lagi kemampuan dan hobi menulisnya yang muncul sesukanya alias moody. Sampai sekarang masih belum bisa konsisten nulis guys, padahal udah dicita-citakan (?) ingin bisa nulis setiap hari meskipun sedikit.
Oke, kali ini aku ingin bercerita tentang kampus hijauku di Bogor. Kampus dimana aku resmi daftar pada 18 Agustus 2013 dan lulus pada 9 Januari 2018 (itung aja berapa lama tuh).
Singkatan IPB (Institut Pertanian Bogor aslinya) sering "diplesetin" menjadi beberapa kepanjangan yang dianggap sesuai dengan karakter IPB itu sendiri, antara lain Institut Perbankan Bogor, dimana julukan ini muncul karena banyaknya alumni IPB yang ditemukan bekerja di bank padahal bukan lulusan Fakultas Ekonomi. Hal ini sempat jadi kontroversi yang menjadi perhatian publik saat Presiden Jokowi menghadiri orasi ilmiah terbuka di IPB, lalu muncullah klarifikasi dari Rektor IPB saat itu, Pak Herry yang bahkan sampai diundang oleh salah satu stasiun TV untuk menyampaikan klarifikasinya. Dimana disebutkan bahwa lulusan IPB memang banyak kerja di bank yang berarti tidak sesuai dengan bidangnya, namun sebenarnya lebih banyak lagi kok yang bekerja sesuai dengan bidangnya (https://www.youtube.com/watch?v=cwkWVVA921w). Hal tersebut berarti menunjukkan lulusan IPB sangat fleksibel untuk bekerja dimana saja karena selain mempelajari bidang masing-masing, setahun pertama kuliah mahasiswa IPB juga diajarkan bidang-bidang lain secara umum, termasuk ilmu ekonomi. Itulah mengapa selain Institut Perbankan Bogor, IPB juga sering diplesetin jadi Institut Pleksibel Banget (agak maksa ya f nya diganti p).
Tapi guys, yang ingin aku ceritakan lebih mendalam disini adalah julukan Institut Pesantren Bogor.
Kenapa IPB bisa diplesetin jadi Institut Pesantren Bogor?
Ceritanya dimulai dari pertama kali aku masuk ke kampus hijau ini.
Selama berada di lingkungan IPB, aku merasakan banyak sekali energi positif yang bisa diserap.
Mahasiswa baru IPB wajib tinggal di asrama selama dua semester atau satu tahun, disinilah banyak terjadi titik balik kehidupan yang membawa mahasiswa-mahasiswi tersebut hijrah ke arah yang lebih baik. Menurutku jika tidak ada fasilistas asrama ini, mungkin IPB gak 'sepesantren' itu.
Di asrama, kita akan sekamar dengan orang-orang yang belum pernah kita kenal sebelumnya, karena sudah ditentukan oleh pihak asrama IPB, Dulu pas aku masuk, asrama IPB terdiri dari 9 asrama, yang terbagi menjadi 5 asrama putri (dengan nama A1-A5) dan 4 asrama putra (C1-C4), tapi berhubung sekarang penerimaan mahasiswa baru semakin bertambah, maka pembangunan asrama baru pun dilakukan. Sekarang per tahun 2019, setahuku sudah ada 6 asrama putri dan 4 asrama putra *CMIIW.
Setiap asrama dibagi menjadi beberapa lorong, dimana jika diibaratkan sebuah desa, asrama A1 dan C4 adalah desa A1 dan desa C4. Di dalam desa A1 tersebut terbagi menjadi beberapa RT yang di asrama IPB disebut lorong. Di setiap asrama/desa ini juga ada Lurahnya loh guys, begitu juga untuk setiap lorong juga ada RT nya.
Setiap asrama ada beberapa Senior Resident (SR) yang akan membimbing kita baik dalam hal akademik maupun keagamaan. SR ini adalah senior-senior yang dipilih melalui tes wawancara dan setauku juga harus memiliki prestasi atau nilai akademik di atas rata-rata, selain itu mereka juga dipastikan memiliki keseharian dan bekal ilmu agama yang baik. Mantep banget dah! SR bisa dibilang calon istri/suami idaman *hmm__
Di asrama ini, kita mempunyai segudang agenda yang wajib diikuti. Seminggu sekali ada yang namanya NGADUNG, NGALONG,dan APEL PAGI! Apaan tuh? Sejenis makanan apa ya?
Baik, mari dengarkan ceritanya.
Ngadung adalah akronim dari Ngaji Gedung dan Ngalong adalah akronim dari Ngaji Lorong. Kalo apel pasti udah tau kan yaa
Akan ku jelaskan satu-satu ya mengenai agenda-agenda di atas.
Ngaji gendung adalah agenda bulanan dari asrama, *maaf bukan agenda mingguan*
Dimana semua penghuni asrama (masing-masing asrama mengadakan di setiap gedungnya) akan berkumpul di lobby asrama dan tentunya harus menutup aurat atau lebih baik lagi menggunakan mukena dan jangan lupa membawa Al-qur'an. Di agenda ini kita akan ngaji bareng dan biasanya ada guess star yang datang untuk memberikan materi/motivasi/tausiyah. Bintang tamunya ini kadang perempuan, kadang laki-laki yah guys. Makanya kudu wajib banget ngadung harus menutup aurat.
Materi yang disampaikan kadang tentang keagamaan, bahkan gak jarang juga tentang hal-hal umum seperti sosial, kesehatan, dan kalo musim pemilihan presma, ada calon-calon presma dan wapresma yang dateng buat kampanye.
Ngalong sendiri, adalah akronim dari Ngaji Lorong yang diadakan semingu sekali di lorong masing-masing. Pembinanya adalah SR tiap lorong (jadi di setiap lorong ada satu SR yang bertanggung jawab). Ngalong tuh bisa seru banget. Selain ngaji, di agenda ngalong ini kita juga diajak main sehingga keakraban antar penduduk (?) lorong semakin intens. Kadang ada sesi curhat-curhatan, sesi makan-makan, dll. Intinya ngalong ini menurutku merupakan alternatif untuk meningkatkan keakraban antar sesama di lorong. Kalo ngadung untuk meningkatkan rasa kebersamaan sesama penduduk asrama. Begitu guys. Oh iya, ngalong kadang dilakukan di koridor lorong masing-masing, kadang juga di loby. Tapi khusus untuk lorongku, gak jarang kita ngadain ngalong di kamarku yaitu kamar 227. Karna kamarnya gueedee banget, bayangin aja selorong ada sekitar 40 orang, dan kalo ngumpul semuanya itu kamarku masih ada celah untuk bergerak alias gak kesempitan. Selain itu karna Bu RT nya juga ada di kamarku hehe, maksudnya aku sekamar sama Bu RT dan empat orang lainnya, jadi kami sekamar ber-enam.
Aku pernah menceritakan khusus tentang kami ber-enam di postinganku yang berjudul "Coretan tentang kalian" dan "Nikmatnya Tinggal di Asrama." Kalo penasaran baca aja ya guys hehe *emang ada yang penasaran? Ini juga gak ada yang baca kali wkwk*
Lalu, apel! Bukan buah apel ya, hehe. Fokus fokus!
Apel adalah agenda mingguan yang wajib diikuti oleh seluruh penduduk asrama di asramanya masin-masing. Eit, tapi beda dengan asrama A1-A4.
Mereka apelnya nyatu di suatu halaman, karena tadi udah kuceritakan kalau asrama A1-A4 itu berada dalam satu pagar, hanya beda gedung saja. Begitu juga dengan asrama cowok yang C1-C3, mereka juga nyatu kalo apel. Beda nih dengan asrama A5 dan C4 yang berada jauh dari pandangan A1-A4 maupun C1-C3. Jadi kita apelnya lebih sepi dibanding mereka.
Apel diadakan jam 06.00 setiap hari Kamis kalo gak salah. Jadi, kalo ada yang Kamisnya kuliah pagi jam 07.00, maka diizinkan untuk tidak mengikuti apel, asal sebelum berangkat kuliah ngadep dulu ke SR dan jangan lupa tanda tangan di lembar absensi. Oh iya, setiap ngadung, ngalong maupun apel ini selalu diabsen loh, gunanya untuk melihat tingkat kehadiran kita yang bisa dijadikan patokan untuk nilai akhir asrama. Jangan salah, ada nilainya juga loh tinggal di asrama.
Di agenda apel ini, hal yang dilakukan adalah baris-berbaris, meskipun agak lucu karna banyak yang belum mandi, bahkan mukanya masih pada muka ngantuk. Hihi
Menyanyikan lagu Mars Asrama, dan mendengarkan ultimatum-ultimatum (?) dari inspektur apel, yaitu SR. hehe
Kalo ada yang telat ikut apel, pasti dihukum. Hukumannya adalah ngepel teras asrama, bersihin WC, ngepel koridor dll haha
Sebelum apel, biasanya kita disweeping sama SR, lurah dan juga RT. Disuruh segera keluar dari kamar dan turun ke bawah agar mengikuti apel. Yang masih tidur sehabis sholat subuh *padahal ini tidak baik* langsung bergegas bangun tuh, kalo gak ya siap aja nanti kalo dihukum ngepel atau ngebersihin WC asrama.
Aku yang sering banget habis subuh ngantuk lagi, sering bergegas bangun dari tempat tidur lalu cuci muka dan turun ke bawah. Muka masih ngantuk banget kadang walaupun udah cuci muka, karna malemnya begadang ngerjain laporan gaes. Wkwk
Tinggal di asrama IPB tuh sesuatu yang berkesan banget pasti di setiap benak mahasiswa/i IPB, sehingga ketika harus meninggalkan asrama, karena gak terasa udah mau setahun aja, dan mahasiswa baru akan menggantikan posisi kita, rasanya beraaat banget. Rasanya pengen tinggal di asrama untuk beberapa waktu lagi. hehe
Selain ada ngadung, ngalong dan apel di asrama. Ada juga UKM-UKM asrama yang boleh diikuti sesuai minat masing-masing, boleh juga ikut lebih dari satu. Tapi ada satu UKM yang bikin asrama IPB tambah pesantren banget, yaitu DEMUSH (Dewan Musholla), inilah orang-orang yang mengingatkan kita untuk sholat, yang sering meramaikan musholla asrama dan yang biasanya bertanggung jawab di bawah binaan SR untuk mengadakan Ngaji Gedung. Kadang seminggu sebelum ngaji gedung, anak-anak demush bikin mading tentang materi ngadung yang akan segera dilaksanakan. Pernah juga demush ini mengadakan lomba di asrama. Ada lomba baca qur'an, lomba bikin poster dll.
Selain itu, demush juga membina para insan asrama yang ingin memperbaiki cara membaca Al-Qur'an. Sangat membantu.
Menjelang sholat, biasanya anggota demush dan para petinggi asrama seperti lurah, RT dan SR sweeping di setiap lorong sambil teriak, "A5 sylva, mari sholat subuh berjamah di musholla."
MasyaAllah, bersyukur dianugerahkan saudari-saudari sebaik itu di asrama. :"""))
Selain asrama, yang bikin IPB jadi Insitut Pesantren Banget, atau lebih tepatnya bikin kita yang berada di IPB terbawa ka arah yang lebih baik, ada suatu kegiatan yang dilakukan di Masjid Al-Hurriyyah IPB. Btw masjidnya super duper nyaman banget untuk beribadah dan menyandarkan badan untuk beristirahat sejenak melepas lelah beban kuliah. Adem banget. Banyak kajian yang diadakan, tergantung kita lagi mau mengikutinya apa tidak. Dan ada satu kegiatan yang aku sangat rekomendasikan untuk diikuti mahasiswa IPB, yaitu Tahsin. Kegiatan Tahsin ini bertujuan untuk memperbaiki cara mengaji kita, yaitu cara melafalkan huruf-huruf hijaiyah dengan benar agar tidak salah baca dan tidak salah arti. Guru-gurunya adalah mahasiswa/i IPB sendiri yang udah punya kemampuan dalam membaca Al-qur'an. Di tahsin ini ada tingkatan-tingkatannya loh. Jadi, sebelum menjadi anggota tahsin, kita dites dulu bacaan qur'annya. Dari tes ini kemudian ditentukanlah kita masuk ke tingkat berapa sesuai dengan tingkat kefasihan kita membaca Al-Qur'an. Jika masih sangat terbata-bata, maka kita akan masuk ke tingkat Pra tahsin. Jika sudah lancar namun tajwidnya belum baik, maka kita masuk ke tingkat Tahsin 1. Jika sudah lancar dan ada beberapa lagi huruf yang masih salah penyebutannya, maka kita masuk ke tingkat Tahsin 2. Jika sudah sangat lancar dan tajwidnya juga sudah benar, maka kita masuk ke tahap menghafal qur'an yang disebut tingkat Tahfidz.
MasyaAllah banget ya.
Jadi, beberapa hal itulah yang membuat IPB terasa seperti pesantren. IPB insyaAllah bisa menularkan energi positif kepada mahasiswanya selama mahasiswa itu mau menyerapnya.
Jadi, IPB itu bukan kampus radikal seperti yang orang katakan. Aku yang pernah menjadi bagiannya, merasa sangat bersyukur telah Allah kirimkan ke kampus ini. Mungkin lain kali akan kuceritakan bagaimana IPB mengubahku menjadi pribadi yang lebih baik. Atas izin Allah, pastinya.
SO, sekarang udah tau kan kenapa ipebe sering diplesetin Insitut Pesantren Banget?
Harapanku, semoga ipb tetap seperti julukannya itu, bahkan lebih baik. Semakin banyak menebarkan energi positif kepada mahasiswa(i) di dalamnya. Semakin banyak yang peduli, semakin banyak yang menuju baik. Aamiin.
Sekian dulu, ya. Semoga bermanfaat!
Wassalamu'alaikum.
Pontianak, Agustus 2019.
-satiw-

Komentar
Posting Komentar