Cerita tentang "Guru"

Happy teacher's day!

Ya, 25 November 2022 diperingati sebagai hari guru dan tentu pada tanggal yang sama setiap tahunnya.

Ini alasan saya ingin sedikit bercerita tentang "guru" di blog ini.

Guru adalah suatu kata yang tak mungkin tak dikenal oleh setiap orang, dari anak kecil hingga orangtua tak ada yang tak tau apa dan siapa sih guru ini.

Menjadi seorang guru sejak 2018 merupakan hal yang tak terduga bagi saya.
Karna menjadi guru tak pernah ada di list cita-cita saya. Tapi takdir ternyata membawa saya ke dunia pendidikan ini.

Sati kecil adalah sati yang bercita-cita ingin menjadi dokter *cita-cita klasik anak kecil sih ini*
Lalu sati bertumbuh menjadi seorang remaja yang tiba-tiba suka membaca novel sehingga membuat sati ingin menjadi penulis. Saat remaja adalah saat dimana sati sedang rajin-rajinnya menulis cerita bahkan sampai sekarang ceritanya masih tersimpan rapi di laptop. Ada yang sudah lebih dari 100 halaman. Tapi sepetinya sudah "basi" untuk dipublikasikan.

Singkat cerita.
Waktu SMP, saya punya guru favorit, beliau mengajar MATEMATIKA. Ya, mata pelajaran yang sering dibilang sulit ini tiba-tiba menjadi mata pelajatan favorit saya karena menemukan pengajarnya yang berhasil membuat saya mengerti pelajaran ini dengan begitu mudah. Bukan sombong ya. hehe
Bu Isla, namanya.
Sebenarnya sejak kelas 7 saya sudah mulai tertarik dengan matematika karena ya kenapa di setiap tugas saya bisa dapat 100. wkwk
Ini juga berkat bantuan kakak saya yang sering saya repotin.
Tapi beranjak ke bangku kelas 9, dimana saya menjumpai Bu Isla karena beliau hanya mengajar di kelas 9, Matematika semakin menarik bagi saya. Hingga saat itu saya jadi bercita-cita ingin menjadi "Ahli Matematika". Tuh, bukan "guru" ya tapi "ahli". Karena dulu saya memang tidak ingin menjadi guru.

Di setiap pertemuan, setelah menjelaskan materi dengan begitu detailnya, Bu Isla selalu memberi tugas. Saya suka dengan cara mengajar seperti ini yang membuat murid mudah mengerti. Tapi ternyata sering sekali hanya saya yang mengerti di kelas sedangkan teman yang lain belum mengerti.

Tapi tentu ada letak keadilannya. Ketika saya mudah mengerti di pelajaran ini, saya sulit mengerti di pelajaran Kewarganeraan, misalnya. Dan ada teman yang sangat mengerti di pelajaran ini. Dan begitu seterusnya...
Hal ini berbicara tentang minat dan tentunya setiap kita diberi kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Memiliki satu guru favorit bukan berarti saya tidak menyukai guru yang lain.
Saya sangat berterimakasih untuk semua guru yang pernah mengajari saya dari yang awalnya tidak tahu apa-apa sampai menjadi saya sekarang ini.
Guru SD, adalah guru yang paling berjasa mengantar saya dari lembah ketidaktahuan hingga perlahan-lahan saya bisa menuliskan satu per satu huruf serta mengeja dan membaca kalimat dengan lancar.
Guru SD juga yang mengantarkan saya bisa menghitung dari angka satuan hingga ribuan.
Tentu guru SD ini adalah guru paling sabar, karena menghadapi anak kecil umur 6 tahunan yang belum mengerti apa-apa. Btw saya tidak pernah TK.

Guru SMP adalah guru yang membuat saya menemukan minat pada suatu mata pelajaran, membuka ilmu pengetahuan baru bagi saya. Guru SMP juga punya kesabaran tersendiri. Mereka menghadapi remaja yang sedang aktif-aktifnya mencoba hal baru. Istilahnya labil. Katanya.

Guru SMA adalah guru yang mengarahkan kita untuk memikirkan seperti apa hidup yang akan kita pilih berdasarkan ilmu apa yang ingin kita pelajari di pendidikan yang lebih tinggi nanti.
Lain lagi dengan guru SMK, guru yang harus super sabar menghadapi murid yang dari awal sebagian besarnya tujuan setelah sekolahnya adalah bekerja. Ia harus mampu mengarahkan dan mendidik murid ini agar siap menghadapi dunia kerja.

Tentunya, bagi seorang guru sendiri, tak ada pekerjaan yang lebih indah dari menjadi seorang guru.
Di dalam hadits juga disebutkan "Sebaik-baik kalian adalah yang belajar dan mengajarkan Al-Qur'an".
Meskipun ini konteksnya adalah Al-Qur'an, tapi ada kalimat "mengajar" yang harus digarisbawahi disana. Hey, bukankah mengajar Ilmu Pengetahuan Alam, misalnya, juga mengenalkan tanda-tanda kekuasaan Allah? Bukankah mengajar Bahasa juga mengenalkan tanda-tanda kebesaran Allah?

So, menjadi seorang guru *meskipun awalnya tak ada kepikiran sama sekali* membuatku merasa bersyukur. Ternyata pekerjaan ini begitu mulia. Embel embel yang sering kudengar dulu "guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa" ternyata tak salah disematkan kepada seorang guru. Karena ia memang pahlawan. Aset terbesar negara adalah sumber daya manusianya. Karena manusia sendiri yang bisa mengatur sumber daya lainnya. Jika sumber daya manusia ini tidak dididik dengan baik, tidak diajari bagaimana memanfaatkan sumber daya alam dengan baik, tidak diajarkan bagaimana menjaga bumi ini dengan baik, hancur lah negeri ini.

Muliakanlah para guru-guru kita. Tanpa mereka, kita tidak mungkin menjadi seperti sekarang ini.
Guru, bukan hanya guru kita yang kita temui di bangku sekolah atau perkuliahan. Tapi guru, adalah siapa saja yang mengajarkan hal baik kepada kita. Ia bisa saja anak kecil, bisa saja orang yang tak kita kenal, bisa saja orang yang tak sengaja kita temui di jalan, dan bisa saja bukan orang: pengalaman.

Terimakasih, Guru.
Semoga berkah apa yang kalian lakukan.

Komentar

Postingan Populer